“Kejahatan
Tidak Harus Dibalas dengan Kejahatan”
·
Amri Priyuda Caromalela
·
Apridika Rio Chandra
·
Della Kharisma
·
Dita Okfi Anggreani
·
Fahri Wisa Amrullah
·
Irma Thya Rani
·
Nuria Ratu Beta
·
Sintia Deby Oktari
·
Tri Oki Subeki
“Kejahatan Tidak Harus Dibalas
dengan Kejahatan”
“Suatu hari di Sekolah Pelita Bangsa
mempunyai seorang siswi baru yang sangat pintar yang bernama Della Kharisma,
akan tetapi ada sekelompok anak yang tidak menyukainya. Sekelompok anak itu
sangat tidak menyukai Della, karena Della adalah seorang siswi yang teladan di
Sekolah Pelita Bangsa, dan dia selalu mendapatkan pujian yang terbaik dari para
guru yang mengajar di sekolahnya. Sehingga kelompok anak tersebut sangat tidak
menyukai dan iri dengan apa yang dimiliki Della.
Di kelas XI IPA 1 mendengar berita
bahwa kelas ini akan kedatangan siswi baru”.
Guru : Anak-anak hari ini kita akan kedatangan
murid baru
Della : (Tok… Tok… Tok…) Assalamualaikum, permisi…
Guru : Waallaikumussalam… silahkan masuk nak
Baik lah anak-anak kita sekarang sudah
kedatangan murid baru, silahkan perkenalkan nama kamu nak.
Della : Hmm, perkenalkan nama saya Della Kharisma,
saya berasal dari SMAN 2 Jawa Timur.
Guru :
Dia adalah salah satu murid yang beruntung disekolahnya karena telah
mendapatkan beasiswa untuk sekolah di Sekolahan Pelita Bangsa ini.
Irma : Oh… dari Jawa Timur, anak kampong dong?
(semua murid menertawai Della).
Della hanya bisa terdiam mendengar
ledekan teman-temannya itu.
Guru : Sudah-sudah (sambil menenangkan suasana
kelas yang gaduh itu)
Silahkan
duduk nak, kamu tempati bangku yang kosong itu ya? (sambil menunjuk kearah
bangku kosong yang berada di samping Fakhri).
Della : Iya bu terima kasih…
Fakhri : (menjulurkan tangan) saya Fakhri.
Della : Saya Della (tersenyum manis)
Guru : Baiklah anak-anak kita lanjutkan kembali
pembelajaran kita.
(Baik Bu Guru! Semua murid
menjawab).
Waktupun tidak terasa dan lonceng
bel pun berbunyi.
Fakhri : Eh nggi, sini deh kenalin nih temen baru
kita.
Anggi : (menghampiri Della) Hai… nama gw Anggi
Della : Saya Della.
(Di Kantin)
Irma : Eh… itu bukannya anak baru yang dari
kampong itu ya? (bertanya kepada teman-temannya).
Dita : Ih… iyaya emangnya dia punya duit gitu
untuk jajan disini?
Amri : Mukanya aja gak meyakinkan kalo dia punya
duit
Oki : Hahaha… bener banget tuh
(sekelompok anak ini menertawai
Della hingga terbahak-bahak).
“Lonceng
bel masuk pun berbunyi. Seketika didepan pintu kelas seorang siswi yang membawa
sisa minumannya dengan tergesa-gesa untuk membuang sisa minuman itu. Dari lawan
arah diapun melihat ada sekelompok anak, dengan tidak sengaja dia menabrak
salah satu dari mereka yang ingin memasuki kelasnya”.
Irma : OMG!!! (sambil menjerit kaget)
Sintia : Ya ampun Irma baju lo jadi kotor gini.
Della : Aduh, maaf ya saya enggak sengaja.
Irma : Oh… lo pikir dengan lo bilang maaf, baju
gua bakal bersih dengan sendirinya.
“Suara
perdebatan itu terdengar sampai kedalam kelas. Fakhri dan Anggipun langsung
mencari sumber suara itu”.
Anggi : Ada apa ini?
Oki : Liat nih kawan lo buat kawan gua sampe
dekil kaya gini!
Anggi : Memangnya Della berbuat apa?
Dita : Lo tanya aja sendiri sama anak kampong
ini!
Fakhri : Yaudah sih cuma gitu aja kok diributin.
Dita : lo pikir baju kawan gua sama dengan baju
kalian!
Fakhri :
Tinggal dibersihin di kamar mandi aja kok repot?
Amri : Eh… gak usah nyolot lo jadi orang!
Anggi : Biasa aja dong, kita tau baju temen lo mahal
gak sebanding dengan baju kita.
Oki : Nah itu lo tau.
(Tanpa
basa-basi sekelompok anak itu langsung meninggalkan mereka)
Anggi :
Udah ya Del, jangan nangis terus gak usah dimasukin ke hati omongan orang-orang
yang kaya mereka itu.
Fakhri :
Iya Del, lo cuma belum terbiasa dengan cacian mereka.
Della :
Iya gak papa kok, makasih ya tadi udah ngebelain saya.
(senyum
indah Della pun mulai terlihat).
“Hari
demi hari pun berganti, namun perselisihan antara mereka tidak kunjung padam.
Hingga suatu hari ada kejadian yang membuat Dela bersedih”.
(Di
pagi hari…)
Bruk..
(terdengar jatuhnya seseorang ke lantai)
Irma :
Ups… sorry kesenggol ya?
Della :
Iya (Della hanya tersenyum menahan rasa sakitnya itu).
“Irma
pun merasa puas karena bisa membalaskan dendamnya kepada Della. Della hanya
melontarkan senyumnya yang polos kepada seseorang yang berjalan membelakanginya”.
Fakhri :
Lo kenpa Del kok bisa jatuh?
Della :
Gapapa kok ri, tadi saya cuma keselandung batu ini.
(menunjuk
sebuah batu).
Fakhri :
Yaudah sini gua bantu berdiri, yuk kita masuk kelas sebentar lagi bel masuk
berbunyi.
Della :
Ya yuk ri kita masuk ke kelas aja.
“Dikelas...
Guru :
Selamat pagi anak-anak, kemarin ibu sudah katakana bahwa hari ini kita akan
mengadakan ulangan tentang Trigonometri, sekarang siapkan kertas kalian.
“Setelah
guru selesai membacakan soalnya”.
Irma :
Sin… sin dapet isian gak lo?
Sintia :
Belum ma
Irma :
Dit, kayak mana bisa gak lo orang?
Dita :
Gak ngerti gua
Irma :
(menimpuk kertas kearah Della, tujuannya ingin mencari jawaban) Bagi sih
jawaban lo!
Della :
(karena Della takut kepada Irma, Della pun memberikan lembar jawabannya kepada
Irma)
Itu
nomor 1 sampai 3.
Irma :
(sibuk menyalin jawaban yang diberi Della).
“Della
pun melanjutkan ulangannya dikertas yang lain. Setelah selesai Della
mengerjakan nomor 4 dan 5, Della langsung meminta kertas ulangannya kepada
Irma.
Beberapa
menit kemudian”.
(Irma
melempar kertas lagi kearah Della).
Guru :
Irma…! Kenapa kamu sibuk melempar kertas, mana lembar jawaban kamu? Sini kamu
maju bawa lembar jawaban mu!
“Irma
pun maju sambil membawa lembar jawabannya dan menyerahkannya kepada guru”.
Guru :
Berdiri disini kamu, sambil mengangkat kaki mu dan tangan ditelinga.
Irma :
Ya ampun bu, saya gak nyontek.
Guru :
Masih aja ya kamu bisa ngelak, ulangan kamu hari ini ibu anggap selesai, dan
kamu berdiri disitu sampai pelajaran ibu selesai. Mengerti kamu Irma!!!
Irma :
Iya saya mengerti bu (dengan muka kesal dengan Della).
Guru :
Ayo anak-anak lanjutkan kembali ulangan kalian waktu tinggal 15 menit lagi.
“15
menit pun berlalu dan pelajaran Ibu Beta sudah habis, dan Irma sudah
diperbolehkan duduk. Irma berjalan mengarah ketempat duduknya yang berada tepat
dibelakang Della, sebelum duduk Irma pun berbicara kepada Della seperti
mengancam Della”
Irma :
Awas aja lo Dell, tunggu tanggal maenya.
“Della sangat ketakutan dengan
ancaman Irma, dia hanya bias menundukan kepala”.
Anggi :
Udah Del gak usah didengerin omongan gak penting itu, lebih baik kita ke perpus
aja yuk sambil baca-baca.
Della :
Yuuk…
“Mereka
berjalan ke perpustakaan, diperjalanan tiba-tiba mereka mendengar suara
perempuan menangis”.
Anggi :
Eh sebentar deh, kita berhenti dulu.
Della :
Ada apa Nggi?
Anggi :
Ada suara nangis tau.
Della :
Enggak ada tuh perasaan kamu aja kali.
Anggi :
Mungkin kali ya???
“Suara
tangisan itu masih membuat Anggi penasaran, akan tetapidia ingin sekali mencari
sumber suaranya”.
Guru :
Kenapa kalian keluar kelas?
Della :
Tadinya kami mau ke perpus bu…
Guru :
Oh… tapi kalian masuk kelassaja ya, Ibu ingin memberikan tugas kepada kalian.
Anggi :
Baik lah bu…
“Di
kelas...
Guru :
Anak-anak kerjakan soal halaman 82 ya, nomor 1b dan nomor 2a dan b, Ibu tinggal
dulu ya, Ibu ingin ke kantor menemui wali murid. Jangan ada yang ribut!
Murid :
Iya Bu Guru… (menjawab dengan serentak)
Anggi :
Aduh… Buku latihan aku kemana ya? Tadi pagi sudah aku taruh didalam tas deh,
kok gak ada ya? (dengan wajah kebingungan dan sambil mencari)
Della :
Mungkin keselip kali Nggi, coba cari dulu deh yang bener.
Dita :
Lo nyari ini hahahaha (sambil memegang buku yang basah)
Anggi :
Buku gua! (Anggi pun terkejut) jahat banget sih lo!
Dita :
Oh… ini buku lo, gua kira buku anak kampong ini, nih gua balikin (sambil
melempar bukunya)
Della :
Udah… Udah… Kita sabar aja, mungkin ini ujian dari Allah supaya kita lebih
tabah dan tegar, kita juga gak boleh membalasnya dengan kejahatan juga.
Anggi :
Oke deh…
“Tet…
Teeeeet… Lonceng bel pun berbunyi”
Sintia : Hore… Pulang… (dengan suara melengking)
Fakhri :
Ternyata lo kampungan juga ya, jerit-jerit kayak gak pernah pulang aja hahahaha
(tertawa mengejek)
Amri :
Woy, kampungan lo ngomong apa?! Gak sadar tah, style lo kaya mau konser
dangdut, Norakkkkkk!!!
Oki :
Bener tuh Mri, ditambah mike aja pasti langsung konser dia di lapangan hahahaha
Dita :
Dah yuk pulang…
Sintia :
Yuk… Bye-bye orang kampung (dengan wajah mengejek)
“Keesokan
harinya…
Sekelompok
anak itu menyusun rencana untuk mengerjai ketiga anak tersebut, tetapi Irma
tidak ikut karena Irma tidak masuk sekolah”.
Dita :
Eh gimana kita kunci aja si Fakhri didalam wc itu.
Oki :
Sip… Sip gua setuju tuh.
Sintia :
Kalau Dela sama Anggi kita robek aja buku catetan dan latihannya.
Oki :
Sip… Sip… Setuju tuh
Amri :
Aih lo mah cuma bisa bilang setuju-setuju aja, gak ada guna ki, makanya jangan
perut aja yang diisi otak juga diisi dong…
“Semua
pun tertawa”
Sintia :
Eh Irma kemana ya? Kok dari tadi batang hidungnya gak keliatan?
Amri :
Iya juga ya,yaudah nanti kita kerumahnya yuk…
“Oke”
(menjawab bersamaan)
“Sepulang
sekolah mereka langsung menju kerumah Irma, mereka naik mobilnya Oki. Oki sudah
dibelikan ayahnya mobil, karena ayah dan ibunya sibuk pulang pergi keluar
negri.
Dirumah
Irma…
Tetapi
ada yang berbeda ketika mereka sampai di rumah Irma, ada plang bertuliskan
Rumah Disita”.
Dita :
Assalamualaikum… Ma… Irma… (sambil megetuk pintu)
Sintia :
Ma lo ada didalam kan? (dengan wajah yang membingungkan)
Amri :
Udah yuk kita pulang aja, tunggu Irma masuk sekolah aja.
Sintia :
Yaudah deh…
“Satu
minggu berlalu, tidak ada kabar apapun tentang Irma. Sampai-sampai mereka
berkeliling mencari alamat saudara-saudara Irma untuk mencari bagaimana keadaan
mereka sekarang.
Suara
misterius pun terdengar kembali ketika Fakhri, Della dan Anggi lewat di
belakang gedung sekolah. Kali ini tidak hanya Anggi saja yang mendengar suara
misterius itu”.
Fakhri :
Ayo… cepetan!! (menuju sumber suara)
“Tetapi
suara itu semakin menjauh dan seketika menghilang”.
Fakhri :
Tuhkan hilang… kalian sih larinya kaya Putri Solo.
Anggi :
Namanya juga cewe sih, dimaklumin dong.
Della :
Iya loh Fakhri ini…
Fakhri :
Yaudah iya-iya maaf deh hehehe, yaudah ke kantin aja yuk aku traktir deh.
Anggi :
Yang bener nih?
Della :
Oke deh, yuk.
“Setelah
kenyang, mereka pun menuju kelas.
Dan
tiba-tiba… Glekkkkkkkk…”
Amri :
Heeh… kerjain tugas gua dong, buruan!!!
Della :
Eeeehhh… iii iiiyyaaa… (dengan wajah ketakutan)
Fakhri :
Lo jangan sembarangan gitu dong…
Oki :
Apa? Lo berani dengan kita orang? Sini! (sambil menarik kerah baju Fakhri)
Fakhri :
Enggak kok ki
“Della
pun pasrah dan terpaksa mengerjakan tugas Amri, setelah tugasnya selesai, Della
langsung memberikan bukunya Amri”
Della :
Nih tugasnya udah aku selesain
Amri :
Nah gitu dong anak kampong, sering-sering aja ya kayak gini hahaha
Anggi :
Dasar gak tau diri!
“Tet…
Teet… Teeeeet… Lonceng pulang pun telah berbunyi, murid-murid langsung
beramai-ramai meninggalkan sekolah…
Satu
bulan pun berlalu…
Sekarang
Della yang mendengar tangisan misterius itu, dia langsung berlari menuju gedung
belakang sekolah. Tiba-tiba hening sejenak”
Della :
Iiiiirrrrrrrrmaaaaaaa??? (dengan wajah yang sangat amat terkejut)
“Della
langsung menghampiri Irma dan memeluknya… sekitika air mata mereka berlinang.
Della sedih melihat Irma memakai baju yang tak layak pakai”.
Della :
Maa, kenapa bisa kaya gini?
Irma :
Orang Tuaku bangkrut, semua fasilitas disita, rumah juga disita dan
hutang-hutang orang tuaku menumpuk.
Della :
Terus kenapa kamu gak masuk sekolah?
Irma :
Aku malu sama teman-teman, aku sudah miskin dan sekarang tidak punya apa-apa
lagi, pasti gak ada yang mau berteman denganku.
Della :
Aku mau kok berteman dengan kamu, walaupun kamu tidak kaya lagi.
Irma :
Thanks ya Del, aku minta maaf udah sering marah-marah sama kamu, ngejailin
kamu, bentak-bentak kamu, mencaci maki kamu dan mengejek kamu kampungan. Aku
menyesal Del udah salah nilai kamu ternyata kamu baik banget orangnya dan gak
mau pilih-pilih teman dari status apa atau dari keluarga kaya atau miskin,
dimata kamu itu semua sama.
Della :
Udah-udah, aku udah maafin kamu dari dulu kok, aku gak punya dendam sama sekali
sama kamu, malahan aku berharap kita jadi sahabat selamanya.
Irma :
Oke sekarang kita jadi sahabat? (mengangkat jari kelingking)
Della :
Oke (menyatukan jari kelingkingnya kejari kelingking Irma)
Maa..
yuk masuk sekolah?
Irma :
Gak ah pasti mereka gak mau berteman dengan aku lagi.
Della :
Pasti mau percaya deh sama aku.
“Setelah
Irma sudah yakin, keesokan harinya iya masuk sekolah dengan pakaian sederhana
tanpa barang-barang mewag yang biasa melekat ditubuhnya”.
Sintia :
Eh… Guys liat geh!
Oki :
Apaan sih sin? Lagi asik nih (sambil membaca komik)
Sintia :
Makanya nengok dulu deh…
Amri
dan Dita : Tanggung nih (main game
dilaptop)
Sintia :
Astaga!!! (mulai kesal)
“Tiba-tiba
seseorang menghampiri Irma
Ternyata
Della, dengan wajah berseri menarik tangan Irma”.
Della :
Eh… semuanya, aku mau ngomong nih, sekarang Irma udah masuk sekolah lagi,
kalian mau kan berteman dengannya?
“Dita,
Sintia, Oki, Amri pun jijik melihat penampilan Irma yang sangat kumel itu”
Irma :
Hai semua… apakabar?
Sintia :
Lo siapa?
Irma :
Gua Irmalah
Dita :
Ih… gak level temenan sama lo, orang miskin!!!
“Air
mata Irma seketika berlinang membasahi pipinya, Della yang kasihan melihat
perlakuan sahabat Irma berpura-pura tidak mengenalinya, karena ia telah jatuh
miskin. Della pun mengajak Irma masuk kekelas.
Di
kelas…”
Guru :
Selamat pagi anak-anak…
Murid :
Selamat pagi bu… (serentak menjawab)
Guru :
Hari ini siapa yang tidak masuk?
Murid :
Nihil bu… (serentak menjawab pertanyaan Bu Guru)
Guru :
Loh Irma kamu sudah masuk sekolah?
Irma :
Udah bu.
Guru :
Kemana aja kamu kok gak pernah masuk Irma?
Irma :
(ia terdiam, ia bingung harus menjawab apa)
Della :
(tanpa disuruh, Della pun menjawab) Irma keluar kota bu… Kakeknya sakit keras.
Guru :Hmm
begitu, yasudah, kita mulai pelajaran hari ini tentang karya tulis. Buka
bukunya halaman 101.
“Anak-anakpun
berkonsentrasi mendengarkan penjelasan bu guru”.
(saat
jam istirahat)
“Irma
menghampiri tempat duduk Della”.
Irma :
Del, makasih ya tadi kamu udah bantuin menjawab pertanyaan Bu Guru.
Della :
Iya sama-sama Irma, sesama teman kan harus saling membantu (mereka tertawa
lepas)
“Tak
lama kemudian Anggi, Fakhri, Oki, Sintia, Amri, Dita muncul”
“Ciye, udah baikan” (merekapun berbicara
serentak dan tertawa bersama)
Irma :
(hanya tersenyum)
Sintia :
Irma, maafin gua ya tadi udah gak ngenalin lo?
“Iya Irma maafin kita juga ya” (Oki,
Amri, Ditapun menjawab bersamaan)
Irma :
Iya teman-teman, udah gua maafin kok sebelum kalian minta maaf.
“Terima kasih Irma” (Sintia, Dita, Amri,
Okipun serentak berbicara dan tersenyum)
Irma :
Iya…
Anggi :
Nah, sekarang kita semua kan sudah berteman, gimana kalo kita merayakanya di
kantin?
Sintia dan Dita : Ayuk, Oki yang nraktirnya? (dengan muka bahagia)
Oki :
Hah? Gua! (agak bingung)
Amri : Iyalah elo, masa Bu Beta? (sambil tertawa
terbahak-bahak)
Oki :
Yaudah deh iya, gua yang traktir…
“Sip… Sip… Let’s go!! (serentak
menjawab)
“Akhirnya mereka berteman dan tiada lagi
permusuhan diantara mereka”
Amanat:
Jangan melihat orang dari penampilan tapi dilihat dari ketulusannya… settt
Drama ini dibuat oleh:
Sutadara
AAADDFINS
Karya : AAADDFINST
Penulis Naskah : AAADDFINST
Editior : Tri Oki Subeki
@oky_tri2




